KUANTAN SINGINGI — Ketika nama Fathul Mu’in mulai menyampaikan niatnya untuk maju mencalonkan diri sebagai Bupati Kuantan Singingi, ada saja yang berkomentar. Ada yang berkata: “Belum dikenal satu RT saja, bagaimana mau memimpin daerah?” Ada juga yang meremehkan langkahnya. Namun bagi Fathul Mu’in, hal-hal demikian tidak membuatnya mundur.
“Saya sadar, mungkin saat ini belum semua orang mengenal saya. Banyak yang belum tahu siapa saya. Ada yang meremehkan, ada yang menghina, ada yang berkata ‘belum dikenal saja sudah mau nyalon’. Biarlah itu menjadi urusan mereka. Yang saya pegang adalah niat tulus di dalam hati saya: saya ingin melihat Kuantan Singingi maju, sejahtera, dan dihargai. Bukan untuk saya, bukan untuk nama saya — melainkan untuk kita semua, masyarakat Kuantan Singingi.”
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Fathul Mu’in percaya bahwa tidak ada orang yang sejak awal langsung dikenal oleh seluruh daerahnya. Semua pemimpin yang dipercaya rakyat saat ini pun pernah berada di titik yang sama — di mana belum banyak yang mengenalnya, namun ia berani bermimpi dan berani melangkah untuk kebaikan orang lain.
“Belum dikenal saat ini bukan berarti tidak akan dikenal esok hari. Belum dikenal bukan berarti tidak mampu. Yang penting bukan seberapa terkenal seseorang, tetapi seberapa tulus niatnya dan seberapa besar pengorbanannya untuk rakyat. Jika niat saya baik, jika langkah saya benar, maka waktu dan kinerja yang akan membuktikannya.”
Ia mengajak masyarakat untuk tidak terlalu fokus pada siapa yang berbicara, melainkan pada apa yang diperjuangkan:
“Jangan lihat siapa saya. Lihatlah apa yang kita perjuangkan bersama. Mari kita tidak sibuk menghina satu sama lain, tetapi mari kita sibuk bekerja membangun daerah kita. Kuantan Singingi tidak butuh pujian yang kosong, tetapi butuh tangan yang saling bergandengan untuk memajukan tanah kelahiran kita tercinta ini.
“Berbeda suku, berbeda adat, berbeda latar — kita tetap satu keluarga besar Kuantan Singingi. Mari kita hidup rukun, saling menghargai, dan menjaga kedamaian.”
“Budaya dan adat istiadat kita adalah identitas yang tak ternilai. Kita lestarikan, kita hargai, dan kita banggakan sebagai jati diri masyarakat Kuantan Singingi.”
“Pembangunan tidak boleh hanya di satu tempat. Desa dan kota harus tumbuh bersama. Kesejahteraan harus dirasakan oleh setiap warga, dari yang paling jauh hingga ke pusat kabupaten.”
“Anak-anak kita berhak belajar dengan layak. Masyarakat kita berhak sehat dan mendapatkan pelayanan yang baik. Ini adalah hak setiap warga, di mana pun mereka tinggal.”
“Jalan yang baik menghubungkan kita satu sama lain. Pembangunan fisik dilakukan dengan jujur, terencana, dan diawasi bersama untuk kepentingan rakyat.”
“Kekayaan alam kita dijaga dengan bijak. Kemajuan tidak boleh merusak lingkungan yang kita warisi dan akan kita tinggalkan kepada generasi mendatang.”
“Hinaan akan berlalu. Ketidakkenalan akan berubah jika kita saling berbuat baik. Yang abadi adalah apa yang kita berikan untuk orang lain dan untuk daerah kita. Mari kita tidak menilai orang dari seberapa terkenalnya namanya, tetapi dari seberapa tulus ia ingin berbuat baik untuk Kuantan Singingi. Maju atau tidaknya Kuantan Singingi bukan tergantung satu orang, tetapi tergantung kita semua yang bersatu membangunnya.”
Fathul Mu’in




















