Aroma Manipulasi di Balik Proyek Menara BTS Kebun Lado, Warga Ring Satu “Dibuang” Demi Izin Palsu?

- Penulis

Selasa, 19 Mei 2026 - 06:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KUANTAN SINGINGI – Proyek pembangunan menara *Base Transceiver Station* (BTS) Telkomsel di Desa Kebun Lado, Kecamatan Singingi, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, kini tengah menjadi sorotan tajam. Infrastruktur telekomunikasi raksasa yang seharusmya membawa kemajuan digital ini, justru memicu protes keras dari masyarakat setempat. Pihak pengembang dinilai bergerak sepihak dan terang-terangan mengabaikan hak-hak warga yang berada di “ring satu” alias area terdampak langsung.

Polemik ini kian memanas setelah muncul dugaan kuat adanya manipulasi data dalam proses pengurusan izin lingkungan.

Saat dikonfirmasi oleh awak media pada Senin (18/5/2026), Camat Singingi, Suparman, ST., M.Eng., langsung menunjukkan Surat Persetujuan Warga Sekitar yang telah mengantongi rekomendasi dari Pemerintah Desa Kebun Lado. Surat tersebut sekilas tampak legal dan menjadi dasar mulusnya proyek.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, fakta mengejutkan justru terungkap saat awak media turun langsung dan melakukan investigasi di sekitar lokasi pembangunan. Warga yang benar-benar tinggal di radius bahaya menara (ring satu) mengaku sama sekali tidak pernah dimintai persetujuan.
“Terkait nama-nama yang bertanda tangan memberi persetujuan pembangunan menara BTS itu, tidak ada satu pun yang tinggal di sekitar lokasi proyek!” ungkap salah seorang warga setempat yang meminta identitasnya dirahasiakan demi keamanan.

Warga merasa dikangkangi, karena tanda tangan yang diklaim sebagai bentuk “restu” lingkungan diduga kuat dicomot dari warga yang tinggal jauh dari lokasi radius rebahan menara.

Baca Juga:  Polresta Sidoarjo Masuk Sekolah,Tanamkan Sadar Hukum pada Pelajar dan Cegah Radikalisme*

Bobroknya tata kelola izin ini memantik reaksi keras dari lembaga kontrol sosial. Ketua Koordinator Wilayah Forum Pers Independent Indonesia (FPII) Kabupaten Kuansing, Rusman, mengecam keras tindakan aparatur desa yang terkesan menutup mata demi memuluskan proyek korporasi tersebut.

Dengan wajah memerah menahan kekecewaan, Rusman menegaskan bahwa Penjabat Sementara (Pjs) Kepala Desa Kebun Lado telah gagal melindungi warganya sendiri.
“Pjs Kades Kebun Lado ini jelas-jelas tidak mengetahui atau sengaja melanggar regulasi tentang aturan pembangunan proyek menara telekomunikasi,” tegas Rusman kepada media.

Rusman melanjutkan, temuan di lapangan ini mengindikasikan adanya pelanggaran hukum yang serius terkait pemalsuan atau manipulasi administrasi publik.
“Ini sudah masuk ranah manipulasi data warga di radius proyek. Pasalnya, nama-nama yang menyetujui itu fiktif secara geografi—mereka tidak bertempat tinggal di radius bahaya proyek tersebut. Mengapa suara warga yang terdampak langsung justru dibungkam?” cecar Rusman.(Tim)

Hingga berita ini diturunkan, masyarakat Desa Kebun Lado menuntut transparansi total dan meminta pihak berwenang segera menghentikan sementara proyek pembangunan menara BTS tersebut. Warga mendesak Pemerintah Kabupaten Kuansing dan aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas dugaan “surat persetujuan siluman” yang mencederai keadilan masyarakat ring satu. (Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pilarfakta.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Demi Sayembara Rp1 Juta, Al-Qur’an Diduga Dilecehkan di Bondowoso, Polisi Buru Aktor di Balik Tantangan
Dokumen Perkara Penganiayaan Ilmiatun Nafia Disorot: Tanggal Berbeda, Penerapan Pasal Dipertanyakan, Kapolda dan Kapolri Diminta Turun Tangan
Kapolsek Bayung Lencir AKP Kosim Tekankan Disiplin, Pelayanan Humanis, dan Integritas Personel Saat Apel Pagi
Lembaga Adat Melayu Riau ( LAMR )Sambut Kapolda Riau yang Baru Melalui Prosesi Tepuk Tepung Tawar di Mapolda Riau
Serahkan Agunan Sejak 2022, Pengusaha Ayam Sidoarjo Gugat BTN Rp1,065 Miliar
FPHM Sidoarjo Desak Dinas Pendidikan Bertindak, Dugaan Pelanggaran di Tiga Sekolah Jadi Sorotan
Polres Pasuruan Siap Segera Tindak Lanjuti Laporan Warga soal Dugaan Tambang Tanpa Izin
Simbol Estafet Kepemimpinan, Pataka “Bhayangkara Satya Abhiyukta” Diserahkan kepada Irjen Pol Dekananto
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 14:42 WIB

Demi Sayembara Rp1 Juta, Al-Qur’an Diduga Dilecehkan di Bondowoso, Polisi Buru Aktor di Balik Tantangan

Senin, 12 Oktober 2026 - 08:28 WIB

Dokumen Perkara Penganiayaan Ilmiatun Nafia Disorot: Tanggal Berbeda, Penerapan Pasal Dipertanyakan, Kapolda dan Kapolri Diminta Turun Tangan

Senin, 12 Oktober 2026 - 06:01 WIB

Kapolsek Bayung Lencir AKP Kosim Tekankan Disiplin, Pelayanan Humanis, dan Integritas Personel Saat Apel Pagi

Minggu, 11 Oktober 2026 - 15:45 WIB

Lembaga Adat Melayu Riau ( LAMR )Sambut Kapolda Riau yang Baru Melalui Prosesi Tepuk Tepung Tawar di Mapolda Riau

Minggu, 11 Oktober 2026 - 14:42 WIB

Serahkan Agunan Sejak 2022, Pengusaha Ayam Sidoarjo Gugat BTN Rp1,065 Miliar

Berita Terbaru