Menghindari Bentrok, Aparat Keamanan di Pos 9 dan 10 TNTN Mundur dari Penjagaan

- Penulis

Rabu, 26 November 2025 - 20:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PELALAWAN – Sebuah insiden ketegangan terjadi di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Riau. Sekelompok warga merusak plang nama Taman Nasional dan bahkan mengusir prajurit TNI yang bertugas mengamankan hutan konservasi yang telah berubah menjadi ladang perkebunan kelapa sawit.

Aksi ini menunjukkan peningkatan eskalasi konflik antara masyarakat dan aparat keamanan terkait isu penertiban kawasan hutan yang dilindungi negara itu. Kawasan yang tidak boleh diganggu itu saat ini menjadi kebun sawit warga, bahkan ada cukong atau pengusaha sawit berskala besar.

Aksi massa ini dilaporkan terjadi menyusul kegagalan dialog antara perwakilan demonstran dengan para pemangku kepentingan (stakeholder) yang diadakan di Kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau beberapa waktu sebelumnya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kegagalan negosiasi tersebut tampaknya memicu kemarahan warga, mendorong mereka untuk kembali ke TNTN dan melancarkan aksi unjuk rasa serta pengusiran terhadap aparat.

Menurut Kapendam XIX Tuanku Tambusai, Letkol MF Rangkuti, sebagian besar massa pendemo kembali ke kawasan TNTN setelah melakukan demonstrasi di Kejati Riau pada Kamis siang (20/11/2025).

Rombongan massa tiba di Pos 10 sekitar pukul 23.00 WIB malam hari, langsung menuntut agar pasukan TNI yang bertugas di sana segera meninggalkan pos.

“Massa meminta agar pasukan yang di sana (TNTN) meninggalkan pos tersebut,” kata Rangkuti Rabu 26 November 2025.

Setelah berhasil meminta pasukan mundur dari Pos 10, massa kemudian melanjutkan aksinya ke Pos 9 dengan tuntutan yang sama, yakni meminta prajurit yang berjaga untuk segera meninggalkan lokasi pengamanan.

Baca Juga:  Ops Lilin Semeru Ditlantas Polda Jatim Batasi Operasional Angkutan Barang Saat Nataru

Menanggapi situasi yang sangat tegang, aparat keamanan di TNTN memilih untuk mundur dan tidak melakukan pencegahan terhadap aksi perusakan tersebut. Rangkuti menegaskan bahwa tindakan mundur ini merupakan sebuah strategi untuk meredakan ketegangan.

“Prajurit mundur untuk menghindari bentrokan fisik yang dikhawatirkan akan terjadi mengingat kondisi emosi warga yang sudah memuncak,” jelas Rangkuti.

Keputusan untuk mundur dan bersikap pasif ini juga sekaligus menjelaskan rekaman video yang beredar luas, di mana petugas terlihat tidak berupaya mencegah perusakan plang nama. Letkol Rangkuti memaparkan bahwa sengaja tidak ada upaya pencegahan agar tidak terjadi bentrok dengan warga, petugas memilih mundur sambil tetap berdialog.

“Itu memang untuk menghindari konflik lah intinya dengan masyarakat,” tegasnya.

Pascaaksi perusakan plang dan pengosongan sementara pos-pos pengamanan, Kapendam memastikan bahwa situasi di lokasi sudah kembali tenang dan kondusif.

“Masyarakat yang melaksanakan aksi juga langsung membubarkan diri (setelah petugas meninggalkan pos),” ujar Rangkuti.

Ia juga menambahkan bahwa peristiwa pengusiran dan perusakan ini adalah yang pertama kali terjadi selama proses penertiban kawasan hutan berlangsung.

Meskipun sempat terjadi pengosongan pos, Kodam memastikan bahwa personel pengamanan di kawasan TNTN telah ditambah jumlahnya. Pos-pos yang sebelumnya sempat ditinggalkan oleh prajurit kini telah diduduki kembali oleh aparat keamanan.

Peningkatan personel ini menunjukkan komitmen Kodam untuk melanjutkan pengamanan kawasan, meskipun menghadapi tantangan dan konflik terbuka dari masyarakat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pilarfakta.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Polisi Tangkap Pelaku Pencabulan, Masuk Rumah Korban Melalui Jendela
Polres Mojokerto Kota Bersama Warga Gagalkan Perang Sarung
Polri Peduli : Polres Lumajang Salurkan Bantuan untuk Lansia Sebatangkara
Gerakan Nasional ASRI: Polrestabes Surabaya Bersihkan Kawasan Jembatan Merah
Satresnarkoba Polres Pasuruan Tangkap Pengedar Sabu 10,33 Gram di Beji
Wow! Petaka yang didapat Niat Basmi Sarang Tawon pria Ini Justru Sebabkan Lahan Terbakar 3 Hektare
Tim gabungan menduga kuat kematian gajah dipastikan akibat tembakan senjata api yang mengenai bagian tengkorak atau batok kepala
Babinsa Pegambiran Monitoring Pendistribusian MBG untuk B3
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 21 Februari 2026 - 20:14 WIB

Polisi Tangkap Pelaku Pencabulan, Masuk Rumah Korban Melalui Jendela

Sabtu, 21 Februari 2026 - 09:51 WIB

Polres Mojokerto Kota Bersama Warga Gagalkan Perang Sarung

Sabtu, 21 Februari 2026 - 05:18 WIB

Gerakan Nasional ASRI: Polrestabes Surabaya Bersihkan Kawasan Jembatan Merah

Sabtu, 21 Februari 2026 - 05:15 WIB

Satresnarkoba Polres Pasuruan Tangkap Pengedar Sabu 10,33 Gram di Beji

Jumat, 20 Februari 2026 - 19:35 WIB

Wow! Petaka yang didapat Niat Basmi Sarang Tawon pria Ini Justru Sebabkan Lahan Terbakar 3 Hektare

Berita Terbaru

Daerah

Polres Mojokerto Kota Bersama Warga Gagalkan Perang Sarung

Sabtu, 21 Feb 2026 - 09:51 WIB