“Karhutla Gambut Riau Tak Sekadar Asap, Habitat Satwa Kian Terancam”

- Penulis

Kamis, 2 April 2026 - 10:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pekanbaru.Pilarfakta.id,-Kabut asap hanyalah dampak yang terlihat dari kebakaran lahan gambut. Di baliknya, ekosistem rawa gambut yang menjadi rumah bagi berbagai spesies flora dan fauna Sumatra juga berada dalam ancaman serius.

Kepulan asap terlihat dari kebakaran hutan dan lahan di wilayah Riau. Kebakaran lahan gambut tidak hanya memicu kabut asap, tetapi juga merusak habitat berbagai satwa di ekosistem rawa gambut Sumatra. Foto: ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid via kumparan.

Pekanbaru – Setiap musim kemarau, langit di sebagian wilayah Riau kembali diselimuti kabut asap. Di balik kepulan asap yang terlihat dari kejauhan, kebakaran lahan gambut menyimpan ancaman yang jauh lebih besar. Api yang membakar tanah gambut tidak hanya menghanguskan vegetasi di permukaan, tetapi juga merusak ekosistem yang selama ini menjadi rumah bagi berbagai spesies flora dan fauna khas Sumatra.
Berbeda dengan kebakaran hutan biasa, api di lahan gambut dapat merambat hingga ke dalam lapisan tanah yang kaya bahan organik. Kondisi ini membuat kebakaran sulit dipadamkan dan dapat berlangsung dalam waktu lama, sehingga kerusakan ekologis yang ditimbulkan menjadi lebih kompleks.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ribuan Titik Panas di Riau
Di Provinsi Riau, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi persoalan lingkungan yang berulang setiap tahun. Berdasarkan pemantauan sistem SiPongi milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, satelit Terra dan Aqua mencatat sekitar 4.449 titik panas di wilayah Riau sepanjang 2025.
Sebaran titik panas tersebut banyak terdeteksi di sejumlah wilayah seperti Rokan Hilir, Rokan Hulu, serta kawasan pesisir seperti Dumai dan Bengkalis. Wilayah-wilayah tersebut memiliki hamparan lahan gambut yang luas sehingga lebih rentan mengalami kebakaran saat musim kemarau.
Data yang sama juga menunjukkan bahwa luas kebakaran hutan dan lahan di Riau pada awal 2025 mencapai sekitar 751 hektare, dengan sebagian besar kejadian terjadi di kawasan gambut.

Ancaman bagi Ekosistem Gambut
Ekosistem rawa gambut merupakan salah satu habitat penting bagi keanekaragaman hayati di Sumatra. Berbagai jenis flora seperti jelutung, ramin, dan meranti rawa tumbuh secara alami di kawasan ini.
Selain itu, hutan gambut juga menjadi tempat hidup berbagai satwa liar seperti burung rangkong, beruang madu, serta beragam jenis reptil dan amfibi yang bergantung pada kondisi lingkungan yang lembap dan stabil.
Menurut berbagai laporan lembaga lingkungan internasional seperti Food and Agriculture Organization (FAO) serta program restorasi yang dijalankan oleh Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), kerusakan ekosistem gambut akibat kebakaran dapat memerlukan waktu pemulihan yang sangat lama, bahkan hingga puluhan tahun.
Ketika struktur tanah gambut rusak, rantai makanan yang menopang kehidupan satwa liar juga dapat terganggu.

Baca Juga:  Ular Piton di Kantor Dinas Kebudayaan Riau

Dampak Lingkungan yang Lebih Luas
Selain mengancam keanekaragaman hayati, kebakaran gambut juga berdampak pada kualitas udara dan perubahan iklim. Tanah gambut menyimpan cadangan karbon dalam jumlah besar sehingga ketika terbakar, karbon tersebut dilepaskan ke atmosfer dalam bentuk gas rumah kaca.
Emisi dari kebakaran gambut diketahui dapat meningkatkan konsentrasi partikel halus di udara yang berpotensi memengaruhi kesehatan manusia serta memperburuk kualitas lingkungan.

Upaya Pencegahan
Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengurangi risiko kebakaran gambut di Riau. Pemerintah bersama berbagai lembaga terkait melakukan patroli terpadu, pemantauan titik panas melalui satelit, serta pembangunan sekat kanal untuk menjaga kelembapan tanah gambut. Program restorasi gambut juga terus dilakukan untuk memulihkan kondisi hidrologi lahan yang telah rusak akibat pengeringan dan pembukaan lahan.
Namun para ahli menilai bahwa upaya teknis tersebut perlu didukung oleh kesadaran masyarakat dalam menjaga ekosistem gambut dan menghindari praktik pembukaan lahan dengan cara membakar.
Melindungi ekosistem gambut di Riau bukan hanya tentang mencegah kabut asap yang sering muncul setiap musim kemarau. Lebih dari itu, langkah tersebut merupakan upaya menjaga keberlangsungan habitat berbagai spesies satwa dan tumbuhan yang menjadi bagian penting dari keanekaragaman hayati Sumatra. Jika kebakaran gambut terus terjadi secara berulang, kerusakan ekosistem yang ditimbulkan dapat semakin luas dan mengancam masa depan lingkungan bagi generasi mendatang.

Wisami Syarifah Tara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pilarfakta.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jaga Sinergitas dan Kolaborasi, Kapolres Pasuruan Kunjungi Makodim 0819 di HUT ke-81 TNI
PERNYATAAN SIKAP KETUA UMUM HMI CABANG MANDAILING NATAL PERIODE 2024–2025
Polres Pelabuhan Tanjung Perak Amankan Tersangka Pengedar Narkoba Sita 42 Gram Sabu*
PKPA Angkatan 25 Sukses Digelar di Tanggulangin Sidoarjo, Diikuti 20 Peserta dari Berbagai Wilayah di Jawa Timur
Polres Pasuruan ungkap pelajar tewas di Prigen, Pelaku masih Kerabatnya Sendiri
DEMO DINAS PENDIDIKAN, KOMANDAN MADINA DESAK BUPATI COPOT KADIS PENDIDIKAN
Polres Gresik Gandeng Tim Ahli Kaji Jalur Blackspot di Driyorejo*
Khidmat, Polres Humbahas Gelar Upacara Hari Kesaktian Pancasila 2026.
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 06:46 WIB

Jaga Sinergitas dan Kolaborasi, Kapolres Pasuruan Kunjungi Makodim 0819 di HUT ke-81 TNI

Minggu, 4 Oktober 2026 - 12:02 WIB

PERNYATAAN SIKAP KETUA UMUM HMI CABANG MANDAILING NATAL PERIODE 2024–2025

Minggu, 4 Oktober 2026 - 08:06 WIB

Polres Pelabuhan Tanjung Perak Amankan Tersangka Pengedar Narkoba Sita 42 Gram Sabu*

Minggu, 4 Oktober 2026 - 08:03 WIB

PKPA Angkatan 25 Sukses Digelar di Tanggulangin Sidoarjo, Diikuti 20 Peserta dari Berbagai Wilayah di Jawa Timur

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 10:20 WIB

Polres Pasuruan ungkap pelajar tewas di Prigen, Pelaku masih Kerabatnya Sendiri

Berita Terbaru