Pekanbaru,pilarfakta.id – Istilah “tak punya malu” mungkin terdengar kasar, namun kenyataannya perilaku semacam ini semakin sering kita jumpai di mana-mana. Mulai dari lingkungan tetangga, tempat kerja, hingga ruang publik, sosok orang yang tidak lagi memiliki rasa malu seolah menjadi pemandangan yang biasa saja. Padahal, rasa malu adalah salah satu benteng utama yang menjaga manusia agar tetap berperilaku baik, santun, dan tidak merugikan orang lain.
Apa Itu Orang Tak Punya Malu?
Orang yang tak punya malu adalah mereka yang sudah kehilangan rasa segan, rasa bersalah, atau rasa tidak enak hati saat berbuat kesalahan, berbuat buruk, atau menyakiti orang lain. Mereka berani melakukan hal yang salah di depan umum, berani mengambil hak orang lain, berani berbicara kotor atau menyakiti, dan tetap merasa dirinya paling benar meski sudah ditegur atau diberi tahu kesalahannya berkali-kali.
Menurut pandangan sosial dan budaya, rasa malu adalah ciri khas manusia yang beradab. Ketika rasa malu hilang, maka hilang pula batas antara apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ciri-Ciri Utama
Secara umum, orang yang dikatakan tak punya malu memiliki ciri-ciri berikut:
1. Tidak Peduli Penilaian Orang: Melakukan hal buruk atau tidak pantas meski dilihat banyak orang, seolah tidak ada yang dilihat atau dinilai.
2. Merasa Selalu Benar: Saat berbuat salah dan ditegur, bukannya minta maaf atau memperbaiki diri, malah marah-marah, membela diri, atau membalikkan fakta seolah dialah yang menjadi korban.
3. Sering Merugikan Orang Lain: Suka meminjam barang tapi tidak mengembalikan, suka menumpang hidup, berhutang tapi lupa membayar, atau mengambil keuntungan sepihak tanpa rasa bersalah.
4. Tidak Tahu Batasan: Suka mencampuri urusan orang lain, berbicara kasar, atau bertindak semena-mena tanpa memikirkan perasaan orang lain.
5. Mengulangi Kesalahan: Sudah berkali-kali dikasih tahu, sudah diperingatkan, namun tetap saja mengulangi perbuatan yang sama.
Dampak Bagi Lingkungan
Kehadiran orang yang tak punya malu ini sangat meresahkan. Mereka sering kali menjadi sumber masalah, pertengkaran, hingga perselisihan di dalam lingkungan masyarakat. Ketika perilaku ini dibiarkan, nilai-nilai sopan santun dan rasa hormat perlahan akan luntur. Banyak orang akhirnya merasa lelah, kecewa, dan memilih menjauh karena merasa tidak ada gunanya lagi berhadapan dengan orang yang tidak bisa diajak beretika.
Pandangan Masyarakat
Seorang warga Pekanbaru, Sari (35), mengaku sangat sulit berhadapan dengan tipe orang seperti ini. “Kalau sudah tak punya malu, kita susah sekali menegurnya. Kadang kita yang jadi salah, padahal merekanya yang berbuat salah. Rasanya ingin marah tapi percuma, karena hati mereka sudah tertutup,” ujarnya.
Hal senada disampaikan oleh Pak Haris (48), “Orang yang punya malu itu akan berhenti kalau sudah dikasih tahu. Tapi kalau yang tak punya malu, makin ditegur makin menjadi-jadi. Seolah aturan dan norma tidak berlaku buat dia.”
Pesan Moral
Para pengamat sosial mengingatkan bahwa rasa malu adalah harga diri seseorang. Jika harga diri itu sudah dibuang, maka seseorang tidak akan lagi dihargai oleh orang lain. Meskipun orang yang tak punya malu itu terlihat menang atau senang sementara waktu, namun pada akhirnya mereka akan kehilangan kepercayaan, kehilangan teman, dan hidup jauh dari kedamaian.
Bagi kita semua, pesan utamanya sederhana: Jagalah rasa malu, karena itu adalah perhiasan jiwa yang paling mahal. Jangan sampai kita dikatakan orang yang tak punya malu, karena itu adalah aib terbesar bagi diri sendiri dan keluarga.
Sementara itu, menghadapi orang yang sudah tak punya malu, langkah terbaik adalah memberi batasan yang tegas, bersikap tegas namun sopan, dan menjaga jarak agar tidak ikut terbawa perilaku buruk mereka.
(Anam susanto)




















